7 Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk Secara Permanen

Diantara kita tentunya memiliki beberapa kebiasaan buruk yang sangat sulit dihilangkan. Adapun cara menghilangkan kebiasaan buruk ternyata membutuhkan komitmen yang konsisten agar bisa berhasil mengubahnya.

Ketika kita konsisten maka seakan-akan kita akan unstoppable. Tapi beberapa kebiasaan mampu memiliki kemampuan untuk menghalangi komitmen kita dengan cara yang serius. Namun, kebiasaan positif ternyata dapat melakukan hal sebaliknya dan harus dikembangkan sebanyak mungkin.

Kebiasaan adalah bahan bakar untuk mencapai titik kinerja tertinggi kita. Kebiasaan juga menentukan bagaimana kondisi batin dan kebahagiaan kita.

Menghilangkan kebiasaan buruk dan mengembangkan kebiasaan baru yang lebih positif bisa mengurangi stres, meningkatkan produktivitas, dan membantu menjalani hidup yang lebih sehat dan sukses.

Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk Secara Permanen

Untuk mengubah kebiasaan buruk secara permanen pertama-tama kita harus fokus pada proses yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Jika hal itu diterapkan, niscaya kita dapat menghilangkan kebiasaan buruk, memulai kebiasaan positif baru, dan mencapai tujuan yang diinginkan.

1. Tentukan Kebiasaan yang Ingin diubah

Pertama-tama kita harus memahami proses dan apa yang harus dilakukan dalam rangka mengubah kebiasaan buruk secara permanen. Pikirkan hal yang paling sederhana dan paling mudah dilakukan, yang dengan mudah dapat mengikis atau mengurangi kebiasaan buruk secara perlahan-lahan.

Lakukan spesifikasi dan identifikasi kebiasaan apa saja yang ingin diubah. Mengidentifikasi kebiasaan, akan membantu kita bekerja lebih cepat menuju arah perubahan, dan memungkinkan kita mencapai target yang kita inginkan daripada hanya sekedar membuang-buang waktu saja.

2. Terapkan Sanksi

Setiap kali kita mengulangi kebiasaan buruk, cobalah untuk memberikan suatu hukuman atau sanksi. Bisa sanksi berupa kewajiban membayar uang/denda, atau tindakan yang lain. Dengan adanya sanksi, membantu kita mengubah pola pikir yang bertujuan memandang hukuman sebagai dampak dari perbuatan/kebiasaan buruk yang kita lakukan.

Jumlahkan denda atau sanksi yang telah diberikan, dan lihat berapa yang harus kita tanggung akibat kebiasan buruk kita. Membayar denda sendiri adalah salah satu cara yang dapat membuat kebiasaan buruk sebagai hal yang merugikan. Sehingga kita menjadi berpikir ulang untuk melakukannya lagi.

3. Cari Pendorong Kebiasaan

Kebanyakan, kebiasaan buruk didorong oleh stres dan rasa bosan. Menemukan akar permasalahan dapat membantu kita mengubah kebiasaan atau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Misalnya, jika kita memiliki kebiasaan makan makanan junk food ketika sedang sedang stres, belajarlah untuk mengenali kapan kondisi stres mulai memicu kebiasaan makan makanan tersebut.

Kemudian, cobalah untuk menggantinya dengan kebiasaan positif seperti berelaksasi, jalan-jalan, atau melakukan olahraga.

4. Buat Perubahan Kecil

Dibutuhkan waktu serta upaya bersama untuk membentuk kebiasaan baru. Mengubah kebiasaan yang sudah berathun-tahun dialkukan tentu bukan urusan yang mudah.

Kita tidak bisa serta merta menghentikan kebiasaan buruk dalam sekejab saja. Kita perlu melatih kesabaran dan fokus untuk mengambil langkah-langkah kecil yang jelas dan mudah dilakukan.

Misalnya, kita bisa mengurangi asupan gula dengan menggunakan alternatif lain seperti susu rendah lemak daripada creamer ketika membuat kopi. Langkah-langkah kecil tersebut lebih bermakna dan memberikan hasil.

5. Berlatih Mindfulness

Meditasi atau mindfulness menciptakan kesadaran dan keterbukaan tentang apa yang telah terjadi dan mengapa itu terjadi. Kegiatan ini adalah tentang melihat dampak yang terjadidari melakukan kebiasaan negatif.

Kebiasaan terbentuk di korteks prefrontal otak kita. Wilayah kecil ini bertanggung jawab atas kebiasaan yang dihidupkan pada titik waktu tertentu. Ahli saraf di MIT menemukan bahwa meskipun kebiasaan mungkin memiliki akar yang lebih dalam di otak, pusat perencanaan otak memiliki apa yang diperlukan untuk mematikan atau mengurangi kebiasaan itu.

Dengan berlatih mindfulness, ternyata dapat mengaktifkan korteks prefrontal yang bertanggung jawab untuk perencanaan, pengambilan keputusan, dan konsentrasi.

Selain itu dapat juga menyusutkan amigdala kanan yang bertanggung jawab atas rasa takut, serta emosi yang berdifat negatif. Seperti halnya melatih keterampilan, seperti bermain piano. Semakin banyak berlatih, kita akan semakin mahir karena adanya repetisi.

Oleh karena itu perlu perhatian yang menyeluruh untuk mengidentifikasi apa saja pemicu, menilai kebiasaan buruk, dan mencoba kebiasaan yang lebih baik.

6. Ganti Lingkungan

Kita tidak dapat mengubah kebiasaan secara permanen dengan tetap tinggal di lingkungan yang masih memelihara kebiasaan itu.

Sebuah isyarat akan meminta otak untuk terus mengikuti rutinitas.

Jika kita berjalan dan melihat toko rokok (isyarat), kita kemudian berjalan ke sana untuk membeli rokok pada akhirnya. Kita mulai memiliki kebiasaan merokok secara rutin, dan memperoleh kesenangan jangka pendek.

Tapi jika ingin berhenti merokok, kita jangan mengulangi isyarat lagi. Begitu kita berhenti mengulangi isyarat itu sama halnya mengubah lingkungan kita. Sehingga kita mampu memberdayakan diri untuk mulai membentuk kebiasaan baru yang lebih bermanfaat.

7. Sabar

Tidak ada yang perubahan yang terjadi dalam sekejab, dan itu termasuk mengubah kebiasaan. Jangan marah ketika kita banyak butuh waktu untuk mengubah kebiasaan.

Otak membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengembangkan koneksi baru dan menghasilkan perilaku yang baru.

Tunggu dan nikmati proses penyesuaian yang terjadi, dan jangan pernah menyerah sambil menunggu adanya perubahan kebiasaan.

8. Berlatih Script Mental

Kita dapat mengubah kebiasaan dengan menulis ulang skrip mental kita. Naskah mental dapat didefinisikan sebagai serangkaian perilaku atau reaksi terhadap situasi tertentu. Dibutuhkan upaya bersama untuk mengubah suatu kebiasaan.

Skrip lama menyertakan kegagalan masa lalu . Mereka terbentuk melalui penguatan yang terus menerus atau berulang.

Kepemilikan skrip tidak memvalidasi bahwa skrip itu nyata. Fakta bahwa kegagalan kemarin tidak berarti kita akan gagal hari ini.

Bagaimana cara menulis ulang skrip kita?
1. Identifikasi skrip lama. Lihatlah masa lalu dan temukan peristiwa dan pertemuan yang telah mempengaruhi perspektif kita saat ini.
2. Tuliskan skrip apa yang ingin diganti. Jika ingin menulis ulang skrip, pastinya kita harus memiliki skrip asli.
3. Pecah skrip menjadi potongan-potongan dan atasi dan cari solusi dari setiap potongan-potongan skrip tadi
4. Tetapkan rencana dan langkah-langkah untuk mencapai tujuan.
5. Desain skripnya. Jangan buang waktu sampai kita memiliki rencana yang sempurna, buatlah apa adanya dulu.

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Mengubah Kebiasaan?

Tidak ada angka pasti untuk menginternalisasi kebiasaan atau untuk menghentikan kebiasaan buruk.

Beberapa peneliti telah merekomendasikan beberapa teknik dan kerangka waktu untuk membentuk kebiasaan baru.

Aturan 21 Hari

Aturan ini dipopulerkan oleh Maxwell Maltz. Maltx adalah seorang ahli bedah plastik yang berusaha memahami bagaimana orang memandang diri mereka sendiri. Dia juga terpesona dengan jumlah waktu yang dibutuhkan pasien untuk menyesuaikan diri pasca operasi.

Dari temuannya, ia menemukan rata-rata individu bisa menghabiskan waktu 21 hari untuk menyesuaikan diri. Berdasarkan informasi ini, para ahli mengkorelasikannya dengan gagasan mengubah kebiasaan dalam waktu 21 hari.

Phillippa Lally, seorang peneliti psikologi kesehatan di UCL, juga menemukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah kebiasaan.

Menurut penelitiannya, lebih dari 96 orang diperiksa selama 12 minggu. Setiap individu diminta memilih kebiasaan baru. Selama 12 minggu berikutnya, mereka melaporkan apakah mereka sanggup menunjukkan kebiasaan baru yang sudah dipilih.

Ternyata beberapa orang memilih kebiasaan sederhana seperti minum air putih dengan makan siang rutin. Yang lain pergi untuk kegiatan yang lebih membosankan, seperti berlari selama 15 menit di malam hari.

Pada akhirnya, tim menemukan bahwa untuk mengaktifkan kebiasaan baru dengan kerangka waktu adalah suatu yang otomatis. Perlu antara dua hingga delapan bulan untuk membentuk kebiasaan baru atau menghentikan kebiasaan lama menurut penelitian tadi.

baca juga: 7 Kebiasaan Sederhana untuk Membantu Melihat secara Detail

Kesimpulan

Dibutuhkan komitmen dan konsistensi untuk bisa mencari cara menghilangkan kebiasaan buruk.

Cobalah untuk lebih fokus pada proses daripada pada hasilnya.

Dengan cara ini, kita dapat mengambil langkah kecil, menikmati perjalanan, dan menantikan hasilnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *