5 Kesalahan Seorang Entreprenuer yang Harus Dihindari

Dunia Entreprenerur atau kewirausahaan adalah tempat penuh resiko dan harapan dimana batas-batas pekerjaan pada umumnya sudah dihilangkan sehingga kita menjadi lebih fleksibel dalam berkreasi.  Tentunya tidak ada yang memberi tahu kita cara bekerja, berapa lama dan seberapa keras bekerja atau berapa banyak yang bisa kita hasilkan.

Tetapi dibalik itu, dunia entrepreneur tetap memiliki  keuntungan dari kebebasan berwirausaha.

Kita tidak boleh lengah dan terlena dengan adanya suatu kebebasan sebagai entrepreneur, karena bisa jadi malah akan menjebak dan menjerumuskan kita ke arah yang salah. Salah satunya adalah seorang entrepreneur terkadang memiliki “kebebasan” untuk berpikir bahwa yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang benar, padahal sebenarnya yang dilakukan ternyata malah suatu kesalahan.

Berikut adalah lima kesalahan umum yang harus dihindari dalam oleh seorang entrepreneur:

1. Tidak Punya Acuan Kesuksesan

Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa jatuh ke dalam perangkap yang memberikan kita kepercayaan bahwa materi tertentu membuat kita “sukses”. Bahwa gaya hidup tertentu adalah simbol dan menggambarkan apa kesuksesan itu. Seringkali, orang mencoba menempuh jalur instan untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan, hanya untuk mengetahui bahwa mereka bahkan tidak menginginkan apa yang mereka kejar.

Untuk menghindari hal itu, pastikan kita sudah memikirkan dan menuliskan apa arti sukses di versi diri kita. Sadarilah apa yang hendak kita tuju, dan ambil langkah yang konsisten untuk mencapainya.

baca juga: 3 Tips Penting Meraih Kesuksesan

2. Komunikasi Lemah

Sangat nyaman untuk merasa percaya diri dan berasumsi bahwa Anda berkomunikasi dengan benar Рdengan atasan, bawahan, rekan kerja, dan pihak lain,  tetapi intinya adalah kebanyakan entreprenur tidak sanggup melakukannya. Apa yang ingin kita katakan, dan dampak yang ingin kita ciptakan, ketika berkomunikasi dengan staf, misalnya, mungkin bukan kata-kata yang tepat atau memiliki dampak yang signifikan sama sekali.

Untuk menghindari hal itu, pastikan berbicara menggunakan fakta, tanpa menghilangkan emosi yang mungkin ditimbulkan oleh fakta tersebut. Sebisa mungkin kita harus tahu sebelumnya bagaimana antar karyawan berkomunikasi. Bisa jadi mereka membutuhkan lebih banyak detail dari diri kita daripada yang biasa kita komunikasikan.

baca juga: 7 Elemen Penting Mendengarkan Efektif

3. Mengganggap Pelanggan Selalu Benar

Ini adalah kesalahpahaman umum yang dapat membuat bisa membuat kita sangat kelelahan dan terkuras energinya. Dengan mengganggap seolah-olah setiap yang dikeluhkan pelanggan adalah “benar” maka akan dapat membingungkan pesan yang ingin kita sampaikan dan justru melatih pelanggan memperlakukan kita dan staf kita.

Untuk mengatasinya coba ambil pola pikir bahwa pelanggan selalu dihormati. Pelanggan harus diperlakukan dengan hormat dan santun, tetapi terkadang mereka juga bisa salah. Jadi, jelaskan secara spesifik siapa target pelanggan yang kita sasar dan layani pelanggan itu dengan baik.

4. Kepemimpinan yang Kurang “Melayani”

“Kepemimpinan yang melayani” adalah kata kunci saat ini; namun, banyak pemilik bisnis tidak memahami apa yang seharusnya diperlukan. Kepemimpinan yang melayani tidak berarti membiarkan orang lain menginjak-injak harga diri kita. Ini bukan tentang menciptakan lingkungan ketergantungan pada kepada diri kita. Seringkali, pemimpin yang patuh adalah orang yang membutuhkan orang lain yang bisa dibutuhkan dan diandalkan.

Untuk mengatasi jebakan ini, kita perlu mempraktikkan kepemimpinan melayani yang sejati. Kepemimpinan yang melayani berarti menyediakan suatu lingkungan pelayanan. Itu berarti melakukan yang terbaik untuk karyawan dan staf kita, yang mungkin juga termasuk memecat mereka. Melayani staf dengan baik membutuhkan pelatihan yang benar dan mempertahankan mereka pada standar yang tinggi.

5. Hanya Mengejar Materi/Uang

Terkadang kita berpikir bahwa uang dan kebebasan itu adalah hal yang sama. Hal ini justru bisa menuntun kita menuju ke jalan yang salah dan sering kali bisa menutup pencapaian dan kesuksesan kita kedepannya. Hanya mengejar uang bisa jadi akan mengarahkankan kita mengejar hal-hal yang salah. Jadikan uang sebagai sampingan atau bonus, bukan sebagai fokus utama.

Buatlah pilihan dalam jangka panjang, untuk menuju kebebasan. Latihlah diri kita pelan-pelan keluar dari pekerjaan, dan penghasilan kita tidak akan terbatas. Apabila kita fokus pada keuntungan jangka pendek, dan maka kita tidak akan pernah memiliki kebebasan sejati. Sebaliknya, fokuslah pada kekuatan dan pertumbuhan bisnis yang kita buat, uang akan mengalir dengan sendirinya. Semua itu dapat dicapai dengan melalui pertumbuhan dan pelatihan yang tepat.

Dengan kita mampu menghindari jebakan-jebakan di atas, niscaya kita akan menuju ke jalur yang tepat menuju kesuksesan. Jadi, mulailah berpindah ke tujuan yang benar. Kita juga perlu mengevaluasi ulang dan melakukan penyesuaian sesering mungkin, karena menjadikan diri kita terbuka terhadap risiko yang akan terjadi ke depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *